Malang – Transformasi digital menjadi sorotan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Gedung Ir. Soekarno (Rektorat) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 26 April 2024. Acara yang menghadirkan para Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) ini menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan dan merumuskan strategi digitalisasi pendidikan tinggi Islam.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM, CRMP, menekankan urgensi transformasi kelembagaan dan layanan digital di lingkungan PTKIN. Ia mengingatkan bahwa PTKIN menghadapi persaingan ketat dalam penerimaan mahasiswa baru, terutama dari generasi milenial yang lebih responsif terhadap layanan cepat dan serba digital.
“Jika kita tidak segera melakukan transformasi baik kelembagaan maupun layanan digitalnya maka PTKIN akan kalah,” tegas Prof. Ilfi dalam pidatonya yang menggugah.
Prof. Ilfi menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan digital, tidak hanya di sektor akademik seperti sistem informasi mahasiswa, namun juga di sektor non-akademik seperti administrasi dan pelayanan umum. Ia menilai bahwa PTIPD sebagai motor penggerak transformasi digital harus menjadi pelopor inovasi—mulai dari konsep smart campus, smart class, hingga pengelolaan big data yang efisien dan terintegrasi.
Salah satu fokus lainnya adalah rebranding program unggulan kampus, seperti peningkatan daya tarik untuk mahasiswa asing. Prof. Ilfi menekankan bahwa layanan digital yang adaptif dan user-friendly menjadi kunci dalam menjangkau pasar global pendidikan tinggi Islam.
FGD ini juga menyinggung pentingnya pengintegrasian layanan digital antar-lembaga, terutama dengan sistem milik pemerintah pusat seperti EMIS, PDDIKTI, BIOS, hingga layanan data di bawah Kementerian Agama. Tantangan integrasi ini, menurut Prof. Ilfi, memerlukan dukungan kolaboratif antar-PTKIN dan komunikasi yang intens dengan pusat, agar data bisa dibagi secara efisien dan berkelanjutan.
“Jaga integritas dan wujudkan layanan digital yang aman, nyaman, dan menyenangkan sesuai kebutuhan masyarakat di era 4.0 ini,” tutup Prof. Ilfi.
FGD ini tak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga peneguhan komitmen bersama antar-PTKIN dalam menjawab tantangan transformasi digital. Kepala PTIPD UIN Malang, Abid Yusron, S.Kom., CAHRM., MCE , yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Forum PTIPD PTKIN, menyampaikan harapannya agar hasil FGD ini dapat menjadi acuan dalam merancang roadmap digitalisasi di setiap PTKIN. “Melalui kegiatan ini, kita berharap bisa menyatukan arah langkah, memperkuat sistem digital yang aman, dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Islam secara nasional,” ujarnya.
Dalam sesi-sesi diskusi, peserta FGD saling bertukar pengalaman terkait implementasi layanan digital, mulai dari pengembangan dashboard data terintegrasi, keamanan siber, hingga penyediaan layanan mandiri berbasis web dan mobile untuk mahasiswa dan dosen. aTransformasi digital bukan sekadar pengadaan perangkat dan aplikasi, melainkan pergeseran budaya kerja dan pelayanan yang berorientasi pada kecepatan, transparansi, dan kemudahan akses. Melalui FGD ini, PTKIN diharapkan tidak hanya mampu bertahan dalam kompetisi global pendidikan tinggi, tetapi juga tampil sebagai model pengelolaan kampus Islami yang unggul, modern, dan berdaya saing tinggi.





